Banyak UMKM mikir bikin website itu mahal. Padahal kalau dipikir lagi, yang bikin berat itu bukan websitenya, tapi kebiasaan nunggu semuanya siap dulu—nunggu punya modal lebih, nunggu desain bagus, nunggu waktu luang. Ujung-ujungnya ga mulai-mulai.
Coba lihat rumah sendiri. WiFi udah ada, listrik nyala terus, dan seringnya ada barang nganggur seperti HP lama, STB bekas, atau mini PC, Laptop lama lo. Itu sebenarnya sudah cukup buat mulai. Bukan untuk bikin sistem besar, tapi untuk jalanin website sederhana yang bisa diakses orang.
Website itu juga ga harus ribet. Kebanyakan orang cuma mau tahu ini usaha apa, jual apa, dan gimana cara hubunginya. Kalau itu sudah jelas, fungsi utamanya sudah jalan. Bahkan satu halaman dengan tombol WhatsApp pun sudah cukup.
Semua itu bisa dijalankan dari rumah tanpa harus sewa hosting bulanan. Tinggal manfaatin koneksi yang memang sudah dipakai tiap hari. Jadi secara biaya, sebenarnya bisa ditekan sampai hampir nol, kecuali domain yang memang tahunan.
Masalahnya jarang di teknis. Sekarang tutorial ada di mana-mana, tools juga makin gampang dipakai. Yang sering kejadian, orang kebanyakan mikir di awal. Semua pengen rapi dulu, semua pengen ngerti dulu. Padahal di dunia nyata juga ga begitu.
Warung kecil saja banyak yang mulai seadanya. Yang penting buka dulu, sambil jalan baru dibenerin. Di internet harusnya sama. Ga perlu nunggu bagus, yang penting ada dulu. Kalau sudah jalan, baru pelan-pelan diperbaiki.
Keuntungannya juga jelas. Lo punya tempat sendiri, ga tergantung platform lain, dan ga perlu khawatir kalau akun tiba-tiba kena masalah. Marketplace tetap bisa dipakai, tapi jangan semua ditaruh di situ. Ibaratnya itu tempat jualan, bukan tempat tinggal.
Jadi kalau di rumah sudah ada internet yang nyala terus, sebenarnya lu sudah pegang sebagian besar yang dibutuhkan. Sisanya tinggal kemauan buat mulai. Dan itu yang biasanya paling susah. Jadi intinya bikin website murah itu bukan isapan jempol