Gue pernah dapet klien yang datang dengan muka kesel. Kalimat pertamanya simpel, “Gue kemarin bikin website 500 ribu. Sekarang gak bisa diapa-apain.” Biasanya cerita dimulai dari situ.
Awalnya kelihatan manis. Landing page rapi, ada form, ada logo, ada tulisan “profesional”. Orang awam ngelihatnya ya itu sudah cukup. Yang penting online. Yang penting ada alamat .com. Yang penting bisa dikirim ke calon pembeli.
Masalahnya baru kelihatan setelah duit pindah tangan.
Jasa Website 500 Ribu atau under 500 ribu itu jarang banget bisnis modelnya sehat. Bukan karena 500 ribu itu haram. Tapi karena dengan angka segitu, si pembuatnya cuma punya dua pilihan: kerja asal jadi atau nutupin sesuatu.
Kadang hostingnya bukan atas nama lo. Domainnya juga bukan atas nama lo. Semua dipegang dia. Lo cuma “numpang”. Tahun depan, tiba-tiba ditagih 1,5 juta buat perpanjangan. Kalau gak bayar? Ya wassalam. Website hilang, data gak bisa diambil.
Ada juga yang pake tema bajakan. Plugin nulled. Di depan kelihatan normal. Di belakang? Penuh pintu tikus. Beberapa bulan kemudian website lo redirect ke judi online. Lo panik, dia bilang, “Wah kena hack.” Padahal dari awal fondasinya udah busuk.
Yang lebih halus lagi: websitenya statis. Lo gak bisa edit sendiri. Setiap mau ganti harga harus lewat dia. Mau tambah foto? Bayar lagi. Mau bikin halaman baru? Bayar lagi. Awalnya murah, ujungnya jadi cicilan tanpa akhir.
Gue gak bilang semua Jasa Website 500 Ribu itu jahat. Tapi kalau dihitung logika kasar aja, bikin website itu ada biaya domain, hosting, waktu desain, konfigurasi, keamanan, testing. Kalau total semuanya 500 ribu, margin dia di mana? Di service lanjutan. Di ketergantungan. Di posisi lo yang gak pegang kendali.
Website itu bukan brosur cetak. Ini aset digital. Kalau dari awal lo gak pegang akses cPanel, gak pegang domain registrar, gak ngerti hostingnya di mana, itu bukan punya lo. Itu cuma sewa lapak.
Banyak orang kejebak karena mikir website cuma soal tampilan. Padahal yang mahal itu struktur dan kontrol. Yang bikin tenang itu akses penuh. Yang bikin bisnis kuat itu kemandirian.
Gue selalu bilang ke klien, lebih baik bikin sederhana tapi lo pegang semua kuncinya. Domain atas nama lo. Hosting atas nama lo. Akses admin lo yang simpan. Developer cuma bantu bangun, bukan jadi pemilik diam-diam.
Murah itu bukan dosa. Tapi kalau murahnya bikin lo kehilangan kendali, itu bukan hemat. Itu nunda masalah.
Dan di dunia digital, masalah yang ditunda biasanya datang pas bisnis lagi butuh-butuhnya.